ARTIKEL
Diposting pada : 2017-10-06 | Oleh : Affan_Indonesia

Rasulullah SAW bersabda, "Ketika aku dimi'rajkan oleh Allah, aku melihat suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri, lalu aku bertanya kepada Jibril, "Siapakah mereka itu wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Itu adalah orang yang suka memakan daging saudaranya, dan menodai kehormatannya." (HR Abu Dawud)

Semua tahu, bahwa ghibah, menggunjing itu dosa. Entah kenikmatan macam apa yang menyebabkan seseorang merasa enjoy ketika memakan bangkai saudaranya. Entah kepuasan apa pula yang dirasakan hingga seseorang merasa lega dan tersanjung saat menceritakan aib saudaranya muslim.

Bahkan, orang yang memiliki hobi menggunjing tak mampu pula menahan lisannya, meskipun ia sedang berada di majlis-majlis yang utama. Di majlis ilmu, ia 'sempatkan' untuk menggunjing. Saat menghadiri undangan walimah, dijadikannya sebagai ajang untuk menyebarkan informasi tentang aib seorang muslim yang berhasil ditemukannya. Dalam waktu yang bersamaan ia memperhatik

an hal-hal yang ganjil di tempat acara, sebagai bahan untuk diobral di majlis yang lain. Begitupun ketika bertamu, dia mengajak tuan rumah untuk menjadi partner ghibah, sekaligus mencari-cari aibnya, siapa tahu ada bahan yang bisa disebarkan ke orang lain. Ia seperti orang yang memilih bergumul dalam comberan di tengah taman bunga yang indah dan wangi

Tempat dan momen yang mestinya dia pergunakan untuk memperkaya pundi-pundi pahala, justru ia mengumpulkan dosa di dalamnya.

Padahal, kehinaan perilaku ghibah luar biasa. Di dalam al-Qur'an, Allah mengumpamakannya dengan memakan bangkai saudaranya. Bahkan bau busuknya pernah tercium oleh Nabi SAW dan para sahabatnya, sebagaimana yang dikisahkan oleh Jabir bin Abdillah, "Suatu kali kami bersama Nabi SAW, tiba-tiba kami mencium bau busuk yang menyengat, lalu Rasulullah SAW bertanya, "Ini adalah bau busuk orang yang menggunjing orang-orang mukmin." (HR Ahmad, Ibnu Abid Dunya)

Karenanya, ketika Amru bin Ash melewati bangkai seekor bighal yang telah membusuk, ia berkata kepada teman-temannya, "Sungguh seseorang memakan bangkai ini hingga perutnya penuh, itu lebih baik dari pada ia memakan daging saudaranya muslim (menggunjingnya)."

Di samping menjijikkan, ghibah itu laksana penyakit kronis yang berbahaya. Seperti yang dikatakan oleh Hasan al-Bashri, "Demi Allah, ghibah itu lebih cepat menggerogoti agama seseorang dibanding penyakit kronis yang menggerogoti jasad."

Kelak, mereka akan terkejut, pahala amal shalih yang telah dikumpulkannya ternyata ludes untuk membayar dosa ghibah yang dilakukannya. Jika kebaikan habis, keburukan orang yang digunjing akan ditimpakan kepadanya. Sungguh ironi, ia menukar pahalanya dengan dosa saudaranya.

Yang lebih mengerikan, apa yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RDL, Nabi SAW bersabda,

"Ketika aku dimi'rajkan oleh Allah, aku melihat suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri, lalu aku bertanya kepada Jibril, "Siapakah mereka itu wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Itu adalah orang yang suka memakan daging saudaranya, dan menodai kehormatannya." (HR Abu Dawud)

©Copyright 2017 perpustakaan UNSIQ by Affan_Indonesia Design All Rights Reserved
Alamat : Jalan Raya Kalibeber Km. 3 Wonosobo Jawa Tengah
Telp./Fax : (0286)321873
Online Chat :
TelegramAffan
WhatsAppAffan