ARTIKEL
Diposting pada : 2017-11-01 | Oleh : Affan_Indonesia

Maukah kita menderita pikun? Siapkah kita bila kepikunan itu justru mendatangi kita di saat usia kita masih terbilang muda? Tentu tidak ada yang menjawab: Mau…!

Lantas, bagaimana bila kepikunan itu benar-benar menghampiri diri kita?

Seputar Pikun
Pikun atau demensia adalah gangguan terhadap fungsi otak berupa menurunnya kemampuan berpikir secara drastis. Gangguan yang terjadi berada dalam kondisi sadar kita. Secara sadar kita akan mengalami gangguan inteligensi, daya ingat, bahasa, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, maupun adaptasi dan kemampuan bersosialisasi. Meskipun demensia sifatnya lamban tetapi semakin lama bisa semakin meluas. Kondisi ini lebih cepat terjadi pada pribadi yang apatis dan tertutup (introvert).

Pikun biasanya terjadi pada orang yang sudah berusia lanjut. Meski begitu, pikun ternyata dapat pula diderita oleh orang yang masih di usia muda. Umumnya gangguan ini muncul saat kita berusia 50-60 tahun. Namun seiring p

erubahan gaya hidup dan tuntutan kerja, bukan tidak mungkin kita akan terkena demensia di usia dini. Fase awal demensia ditandai gejala kelelahan, sering gagal saat menjalankan tugas baru, dan sulit mempertahankan kinerja mental. Semakin lama, kita merasa kesulitan melaksanakan tugas-tugas hariannya, dan cenderung perlu dibantu.

Usia yang bertambah tua memang berefek pada fungsi otak dan ingatan. Tapi, bila kini kita mulai linglung dan pelupa, kita harus waspada! Kehilangan ingatan dan penurunan fungsi otak bisa muncul lebih dini akibat stres terus-menerus

Kita perlu mewaspadai gejala-gejala demensia agar dapat segera membuat langkah antisipasi atau pengobatannya. Beberapa gejala yang menonjol, antara lain:

  1. Mudah lupa dan sulit berkonsetrasi.

  2. Terjadi penurunan kemampuan dalam menyelesaikan masalah.

  3. Sering terjebak dalam masalah dan bingung sendiri.

  4. Suka berhalusinasi.

  5. Sering salah mempersepsikan sesuatu, sering salah orang, tempat, dan waktu.

  6. Susah mengingat orang, tempat, dan nomor telepon.

  7. Mengalami perubahan kepribadian, seperti mudah jengkel, temperamen, sering cemas, dan mudah ragu.

Nah, bila kita sudah mengalami gejala-gejala tersebut, waspadalah!

Membaca sebagai Solusi
Dewasa ini, masyarakat kita memang belum menjadikan membaca buku sebagai suatu kebutuhan. Kebutuhan akan membaca buku masih selalu tersingkir oleh kebutuhan-kebutuhan lain. Padahal, kegiatan membaca sesungguhnya memiliki banyak manfaat. Di antaranya, dengan membaca otak bisa bekerja dengan baik. Informasi yang diperoleh dapat lebih lama disimpan dalam otak daripada mendengar atau melihat saja. Dengan aktivitas membaca, seseorang dapat mengembangkan imajinasi dan daya pikirnya dari informasi yang diperolehnya. Akhirnya, kemampuan daya nalar dan kreativitas seseorang dapat terus berkembang dan memiliki kemampuan daya pikir jauh lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak senang membaca.

 sedikitnya ada lima kegunaan bagi para pecinta aktivitas membaca bagi kesehatan kita, yaitu:

1. Melatih Otak
Satu keuntungan dari membaca buku adalah melatih otak dan pikiran. Membaca dapat membantu otak agar selalu melakukan fungsinya dengan sempurna. Saat membaca, otak diperlukan untuk berpikir lebih sehingga dapat membuat orang lebih cerdas. Tapi untuk latihan ini, membaca buku harus dilakukan secara rutin.

2. Menghilangkan Stres
Stres berisiko menumbuhkan beberapa masalah berbahaya. Keindahan bahasa dalam tulisan memiliki kemampuan untuk menenangkan dan mengurangi stres, terutama membaca buku-buku fiksi sebelum tidur. Metode ini dianggap baik untuk mengatasi stres.

3. Menghindari Risiko Penyakit Alzheimer
Membaca buku benar-benar dapat meningkatkan kekuatan jaringan otak secara langsung. Ketika membaca, otak akan mengalami rangsangan secara teratur. Kondisi ini d

©Copyright 2017 perpustakaan UNSIQ by Affan_Indonesia Design All Rights Reserved
Alamat : Jalan Raya Kalibeber Km. 3 Wonosobo Jawa Tengah
Telp./Fax : (0286)321873
Online Chat :
TelegramAffan
WhatsAppAffan